Raih Diamond TKMPN XXII, PKM DPCS Siap Kembangkan Distribution Requirement Planning

31 Desember 2018

Inovasi Distribution Planning and Control System berbasis data geo spasial untuk meningkatkan control dan distribusi pupuk urea subsidi, mengantarkan PKM DPCS meraih predikat Diamond, pada Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) XXII dan International Quality and Productivity Convention (IQPC) 2018 di Batam, Kepulauan Riau.  Peringkat tertinggi pada ajang tahunan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat tools yang digagas DPCS merupakan perangkat satu-satunya dan pertama dari seluruh industri pupuk di dunia, agar pihak yang berkepentingan seperti petani dan pengecer dapat memantau ketersediaan pupuk yang terdistribusi, serta bisa diakses kapan pun dan dimana pun secara real time.

 

Dijelaskan Ketua Tim DPCS Ari Novan Setiono, inovasi ini wujud komitmen Perusahaan untuk penyediaan pupuk secara merata dan mencukupi, bagi seluruh kawasan tanggung jawab Pupuk Kaltim di 2/3 wilayah Indonesia. Menurut Ari Novan, inovasi ini melihat data yang tersebar melalui System Application and Product (SAP) Enterprise Resource Planning (ERP) dan SMS Stock Pupuk Kaltim masih bersifat data mentah, sehingga menyulitkan pihaknya dalam pelaporan distribusi. Di samping juga membutuhkan waktu lebih untuk pengolahan data mentah menjadi data stok yang akurat, sebagai basis perencanaan dan persyaratan izin ekspor.

 

Selain itu, Pupuk Kaltim juga tidak memiliki pembuktian ketersediaan stok mencukupi di daerah, yang sejatinya dibutuhkan untuk mengetahui jumlah persebaran urea subsidi. “Makanya kita buat tools bagi seluruh pihak yang berkepentingan secara real time dan bisa dimonitor sampai ke pengecer,” kata Ari Novan. Sejak 2016, inovasi ini telah diterapkan Pupuk Kaltim secara terintegrasi dan mampu memantau seluruh area distribusi yang mengalami kekosongan pasokan pupuk. Bahkan tools ini juga digunakan beberapa anak usaha Pupuk Indonesia Grup, dalam memantau kondisi serupa di setiap wilayah.

 

Melihat keberhasilan tersebut, DPCS pun kata Novan akan mengembangkan gagasan ini melalui implementasi Distribution Requirement Planning, didasari karakter daerah yang kerap menumpuk stok pupuk guna meminimalisir kesalahan yang terjadi. Hal itu dinilainya tidak optimal, karena daerah hanya terkesan ingin aman dengan menumpuk pasokan sebanyak mungkin, sehingga berdampak pada pembengkakan biaya, serta berpengaruh terhadap penjualan non subsidi yang juga dimungkinkan hilang. “Padahal stok kita sangat cukup untuk memenuhi subsidi, makanya dengan pengembangan inovasi ini kita bisa membuat perencanaan dari Lini 3 (Kabupaten) ke pabrik se-optimal mungkin,” terang Novan.

 

Terkait efisiensi dari inovasi DPCS, Pupuk Kaltim kini mampu meningkatkan nilai ekspor mencapai 440.000 ton per tahun, atau sekitar USD12 juta. Meski bukan satu-satunya factor penentu, tapi DPCS ditegaskan Novan berperan sebagai pintu pembuka untuk meyakinkan pihak terkait, jika Pupuk Kaltim telah memiliki tools untuk mengontrol system, sehingga izin ekspor bisa dikeluarkan. “Makanya kami ingin kembangkan lagi inovasi ini, agar lebih meningkatkan efisiensi dan produktivitas Perusahaan,” pungkas Novan. (*/vo/nav)


Download:

    Tahun Kinerja Terbaik, Pupuk Kaltim Menuju Center of Excellent BUMN di Indonesia

    NEXT PAGE
    Grand Platinum

    SNI GRAND
    PLATINUM

    PROPER
    EMAS

    INDUSTRI
    HIJAU LV.5