CAPAIAN DAN PROSPEK PERUSAHAAN

CAPAIAN DAN PROSPEK 2019
ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Kebijakan dan Strategi Pemasaran

Pada tahun 2019, Perusahaan telah menetapkan fokus dan strategi yang merupakan penjabaran dari Visi dan Misi serta Rencana Jangka Panjang yang ditetapkan oleh Pemegang Saham. Strategi ini dirumuskan untuk mengantisipasi pengaruh kondisi eksternal dan internal yang berdampak signifikan pada kinerja Perusahaan. Beberapa strategi utama yang direalisasikan antara lain:
• Meningkatkan penguasaan pasar dalam negeri  dan luar negeri, baik melalui kerja sama
  strategis dengan konsumen, penetrasi pasar melalui jaringan dan pasar ritel.
• Mengamankan jaminan pasokan bahan baku dan melakukan renegosiasi harga bahan
  baku.
• Mengoptimalkan sumber pendapatan usaha yang menghasilkan margin lebih baik.
• Meningkatkan kompetensi SDM.
• Melakukan efisiensi biaya operasional.

Pangsa Pasar Internasional
Urea
Penjualan ekspor Urea mengalami kenaikan signifikan sebesar 63% menjadi 1,3 juta ton dari posisi tahun 2018 yang sebesar 786,0 ribu ton. Hal tersebut merupakan keberhasilan Perusahaan dalam memanfaatkan momentum kenaikan harga di pertengahan tahun 2019. Meskipun demikian, pasar Urea sempat mengalami gejolak yang diakibatkan ketidakstabilan
harga. Harga pasar Urea internasional pada tahun 2019 diawali dengan dengan tren yang menurun  hingga kuartal-II 2019. Harga sempat meningkat pada kuartal-III 2019 hingga mencapai puncak lalu kembali menurun pada kuartal-IV 2019.

Pangsa pasar terbesar tahun 2019 adalah dari India yang mencapai 36% dari total penjualan ekspor, diikuti oleh penjualan ke Filipina 20% dan Australia 20% dari total penjualan ekspor. Penurunan porsi penjualan justru terjadi pada Vietnam yang sebelumnya merupakan pangsa pasar utama Perusahaan. Pada tahun 2019 pangsa pasar di negara itu hanya 6% dari total penjualan, turun sebanyak 76% dari tahun sebelumnya yaitu 25% dari total penjualan. Hal tersebut dikarenakan banjir yang terjadi di negara tersebut sehingga mempengaruhi permintaan Urea.

Meskipun demikian, pada tahun 2019 Perusahaan berhasil menjual kargo ke pasar baru seperti Kolombia dan Mozambik. Selain memiliki pasar baru, peningkatan penjualan ekspor tahun 2019 disebabkan kenaikan penjualan pada kedua negara importir besar Urea yaitu India dan Australia. Kondisi tersebut didukung oleh peningkatan produksi Urea tahun 2019 dari dengan  sebelumnya serta turunnya alokasi pupuk Urea subsidi dari pemerintah pada tahun buku dibandingkan dengan tahun 2018. Dari sisi market share, Perusahaan adalah eksportir Urea terbesar di Indonesia pada tahun 2019. Sedangkan untuk pasar Asia Tenggara, penjualan urea ekspor Perusahaan mencapai 32% dari total ekspor dari negara di Asia Tenggara pada tahun 2019.

Amoniak
Pada tahun 2019, penjualan ekspor Amoniak mengalami perlambatan sebesar 4% dari capaian tahun 2018 yang sebesar 531,3 ribu ton menjadi 508,1 ribu ton akibat dari permintaan pasar global yang mengalami perlambatan. Permintaan yang melambat tersebut disebabkan oleh berbagai hal. Secara keseluruhan harga Amoniak cenderung melemah dibandingkan dengan harga pada tahun 2018. Pada kuartal-I 2019 harga amoniak secara umum kurang stabil dibandingkan dengan kisaran harga pada kuartal-I 2018. Pelemahan harga pada seluruh indikasi harga sebagian besar diakibatkan karena pasokan yang banyak dan permintaan yang relatif lemah secara global.

Faktor pendukung lainnya ialah terdapat beberapa turnaround di bulan Januari, permintaan AS yang rendah karena cuaca yang sangat buruk di wilayah Midwest pada bulan Februari/Maret sehingga mendorong penurunan harga Tampa serta harga produk hilir yang juga melemah turut memperburuk harga Amoniak. Pada kuartal-III 2019, harga Amoniak mulai stabil yang ditunjukkan dengan pemulihan harga, didukung oleh harga gas yang lebih tinggi di Eropa dan permintaan atas Amoniak yang baik di India. Peningkatan pasokan dari Rusia (EuroChem) dan Indonesia, yakni PT Panca Amara Utama (PAU) dan ekspansi pabrik hilir di Brasil, Turki, Cina turut mendukung peningkatan permintaan Amoniak.

Potensi permintaan impor Amoniak akan lebih tinggi dari India sebagai produksi Diammonium Phosphate (DAP). Sementara itu, potensi pasokan Amoniak akan lebih tinggi yang berasal dari Mesir. Selain itu, harga  gas alam di Eropa Barat meningkat secara bertahap  sehingga memiliki potensi yang mengarah pada permintaan impor lokal yang lebih tinggi. Namun, pada bulan Agustus merupakan akhir dari beberapa turnaround di Arab Saudi dan Aljazair sehingga menyebabkan meningkatnya pasokan di pasar.


ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Urea
Realisasi penjualan Urea non subsidi tahun 2019 adalah 796,4 ribu ton, turun 32% dari penjualan tahun sebelumnya yaitu 1,2 juta ton. Pangsa pasar terbesar dari produk tersebut ialah Pulau Kalimantan yang mencapai 40% dari total penjualan. Kedua terbesar ialah Pulau Jawa dengan persentase sebesar 33% dari total penjualan, dan selanjutnya adalah Pulau Sumatera yang sebesar 22% dari total penjualan.

Kalimantan merupakan pangsa pasar utama karena Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kedekatan lokasi dan banyaknya perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan, begitu juga di Sumatera yang merupakan sentra perkebunan sawit di Indonesia.
Sementara itu, di pulau Jawa banyak terdapat lahan pertanian dan lokasi industri yang membutuhkan Urea sebagai bahan baku. Perusahaan memiliki pangsa pasar terbesar di antara pabrik pupuk sesama anak perusahaan PT Pupuk Indonesia, yakni mencapai 50% dari total penjualan Urea non subsidi dalam negeri PT Pupuk Indonesia pada tahun 2019.

Amoniak
Pangsa pasar domestik Amoniak sebagian besar didominasi oleh pembeli Bontang sebesar 62% dari total penjualan domestik amoniak untuk kebutuhan industri petrokimia, sedangkan 32% oleh pembeli Gresik. Realisasi penjualan pada tahun 2019 yang sebesar 223,2 ribu ton, turun 17% dari posisi tahun 2018 yang sebesar 267,6 ribu ton.

NPK
Penjualan pupuk NPK non subsidi pada tahun 2019 sebesar 23.934,4 ton, turun 10% dari tahun sebelumnya yakni 26.520,9 ton. Pangsa pasar penjualan pupuk NPK dalam negeri terbesar adalah di pulau Kalimantan, yang mencapai 29% dari total penjualan. Kemudian pulau Sulawesi sebesar 27% dari total penjualan dan Jawa mencapai 21% dari total penjualan. 

Sama seperti Urea, penjualan NPK terbesar terjadi di Kalimantan dan Sulawesi karena Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kedekatan lokasi. Sementara itu, untuk pasar Sumatera tidak mudah dijangkau karena kendala tingginya biaya kirim sehingga harga barang sampai di Sumatera menjadi kurang kompetitif.

Dengan realisasi penjualan selama tahun 2019, pangsa pasar pupuk NPK Perusahaan hanya 8% dari total penjualan PT Pupuk Indonesia pada tahun 2019 sehingga Perusahaan perlu memperluas pasar pupuk NPK non subsidi.


RINGKASAN KINERJA 2019


 


CAPAIAN DAN PROSPEK 2018
ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Harga pasar urea internasional mengawali tahun 2018 dengan tren yang meningkat, lalu sedikit melemah hingga kuartal kedua, kemudian meningkat pada kuartal ketiga hingga keempat. Secara umum, harga rata-rata Urea tahun 2018 lebih baik dari tahun 2017. Peningkatan produksi urea global pada 2018 yaitu 170,4 juta ton, lebih tinggi dari tahun 2017 yaitu 168,6 juta ton, diikuti oleh kenaikan konsumsi urea pada 2018 yaitu 171 juta ton, lebih tinggi dari tahun 2017 yaitu 168,8 juta ton. Namun, dilihat dari sisi perdagangan internasional, terjadi penurunan ekspor global pada tahun 2018 yaitu 48,8 juta ton, turun dibandingkan tahun 2017 yaitu 49,1 juta ton. Penurunan ekspor tersebut disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari China sejak tahun 2017.

Dari realisasi penjualan Urea ekspor tahun 2018 yaitu 786 ribu ton, pangsa pasar terbesarnya adalah di wilayah Asia Tenggara di mana Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif berupa kedekatan wilayah serta adanya perjanjian asean Free trade area (AFTA) antar negaranegara ASEAN berupa kawasan bebas bea masuk. Pangsa pasar terbesarnya terutama ke Filipina 299 ribu ton atau 38% dari total penjualan dan ke Vietnam sebesar 197 ribu ton atau 25% dari total penjualan.

Di sisi lain, tahun 2018 menggambarkan penyesuaian terhadap arus perdagangan ammonia yang baru dan perubahan dalam permintaan dari tiap daerah yang didorong oleh ketersediaan amonia karena 2 (dua) proyek amonia terbesar telah selesai (BASF/Yara JV dan PAU). Tiga pemasok amonia utama di wilayah Indonesia yang sedang memperluas kapasitas adalah: PAU (commissioning pada Q2 2018 dan ekspor pertama pada Juli 2018), Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kujang di Indonesia. Fertecon ammonia outlook december/2018 menunjukkan konsumsi amonia dunia selama 2018 sekitar 179 juta ton dan meningkat menjadi 183,7 juta ton pada 2020. Kapasitas terpasang produksi amonia dunia meningkat dari 249 juta ton pada 2018 menjadi 254 juta ton pada 2020.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Untuk pangsa pasar domestik, dari realisasi penjualan Urea nonsubsidi tahun 2018 sebesar 1,17 juta ton, pangsa pasar terbesarnya adalah di Kalimantan dengan penjualan sebesar 457 ribu ton atau 39% dari total penjualan serta wilayah Jawa dengan 343 ribu ton atau 31% dari total penjualan. Hal ini dikarenakan Pupuk Kaltim dapat memanfaatkan kedekatan lokasi dengan wilayah tersebut menjadi keunggulan kompetitif. Sementara itu, di wilayah Jawa, terutama Jawa Timur, banyak terdapat industri yang menggunakan urea sebagai bahan baku. Pupuk Kaltim juga terus melakukan penetrasi pasar ke wilayah Sumatra di mana terdapat banyak perkebunan sawit, baik melalui gudang di Dumai dan Medan maupun penjualan langsung dari gudang Bontang, sehingga mendapatkan penjualan sebesar 311 ribu ton atau 27% dari total penjualan. Hal yang sama juga terjadi pada penjualan NPK di mana pangsa pasar terbesarnya adalah di wilayah Jawa dan Kalimantan. Total penjualan tahun 2018 untuk NPK nonsubsidi adalah 26,52 ribu ton. Penjualan ke Kalimantan Timur mencapai porsi terbesar 10,6 ribu ton atau 40% dari total penjualan dan penjualan ke Jawa Timur 5,5 ribu ton atau 21% dari total penjualan. Untuk produk Amoniak, pangsa pasar domestic sebagian besar didominasi oleh pembeli Bontang untuk kebutuhan industri Petrokimia.

RINGKASAN KINERJA 2018


 


CAPAIAN DAN PROSPEK 2017
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Dalam prospek usaha Internasional, tantangan eksternal yang dihadapi oleh Perusahaan adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing diantaranya Qafco (Qatar), Petronas (Malaysia) dan PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Tiongkok. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing dapat memperoleh alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan LNG yang cukup tinggi untuk kawasan Timur Tengah dan cadangan shale gas untuk kawasan Amerika. Sementara
itu Perusahaan memperoleh kontrak bahan baku dengan harga yang lebih tinggi dibanding kontrak sebelumnya yang telah berakhir. Tantangan lainnya yang dihadapi Perusahaan adalah umur pabrik yang sudah tidak muda lagi yang berdampak pada kehandalan pabrik dan efisiensi pemakaian bahan baku yang mulai menurun serta kenaikan harga bahan baku.

Di sisi lain, tantangan yang cukup berat bagi Perusahaan di pasar Amoniak kedepan masih berkaitan dengan harga Amoniak internasional yang terus mengalami tren penurunan. Pada tahun 2017, harga FOB untuk wilayah Asia Tenggara mengalami penurunan sebesar hampir 3% dibanding harga pada tahun 2016.

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Dalam usaha untuk mengembangkan market share pada pasar domestik, perusahaan dihadapkan pada berbagai tantangan. Tantangan tersebut antara lain persaingan dengan tidak hanya produsen pupuk nasional lain, namun juga dengan produk impor yang masuk ke Indonesia, yang didominasi oleh produk dari Tiongkok. Tantangan lainnya adalah kondisi cuaca ekstrim yang mungkin terjadi dan dapat menyebabkan penyerapan di sektor subsidi kurang optimal. Untuk prospek pupuk Urea non subsidi dan Amoniak dalam negeri, beroperasinya pabrik Pusri 2B di Palembang dan pabrik Amorea 2 di Gresik turut menambah peta persaingan usaha. Isu utama lainnya yang perlu disiapkan oleh Perusahaan adalah
program pemerintah untuk mengalihkan subsidi pupuk dari produsen ke petani.

Hal ini akan membawa implikasi semakin ketatnya persaingan di pasar domestik dimana petani tidak terikat pada merek pupuk tertentu. Khusus pasar Amoniak domestik, berdirinya pabrik PAU di Sulawesi tidak terlalu berpengaruh karena produk PAU akan terserap ke pasar Internasional. Di sisi lain, beroperasinya pabrik Amorea 2 di Gresik sangat berpengaruh pada penyerapan produk Amoniak domestik. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan bagi Perusahaan di masa mendatang untuk mendapatkan tambahan pangsa pasar Internasional.
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian RI pada website Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) tercatat konsumsi pupuk Urea tumbuh sebesar 12% dari tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan peluang pemasaran pupuk Urea di sektor domestik masih terbuka
luas, terutama pada sektor perkebunan di Sumatera dan Kalimantan. Perusahaan juga mulai merambah sektor retail domestik dengan menjual Pupuk Urea dan NPK melalui kios maupun online.

Peluang lainnya adalah pemasaran pupuk majemuk dimana konsumsi pupuk NPK non subsidi juga tumbuh sebesar 6% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran petani menggunakan pupuk majemuk yang mengandung lebih banyak unsur hara dan meningkatkan kualitas tumbuh tanaman. Untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut, Perusahaan terus mengembangkan penjualan
secara langsung melalui penjualan retail, pre-marketing NPK Chemical dan penjualan online melalui Go-Pupuk serta menjalin kerjasama dengan distributor untuk meraih pasar yang lebih luas lagi, disamping juga meningkatkan promosi di daerah potensial. Perusahaan juga senantiasa melakukan inovasi pada berbagai bidang sehingga dapat beroperasi dengan lebih efisien dan menekan biaya, langkah - langkah yang telah dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kinerja perusahan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR 
ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Fertecon Urea Outlook Q4/2017 menunjukkan harga pasar Urea Internasional 2017 melemah dari awal tahun hingga pertengahan tahun, sebelum meningkat secara perlahan pada kuartal ketiga dan keempat. Berdasarkan Fertecon Urea Outlook Q4/2017 adanya peningkatan produksi total dunia 1% dari tahun 2016 sebesar 178 juta ton menjadi 181 juta ton pada tahun 2017, sebagai hasil dari meningkatnya capacity utilitation rate dunia dari 78% pada 2016 ke menjadi salah satu faktor yang mendorong harga turun.

Namun jika dilihat kapasitas terpasangnya, ada penurunan sebesar 2% dari tahun 2016 sebesar 228 juta ton ke 223 juta ton pada tahun 2017, salah satu penyebabnya adalah
mulai dimatikannya beberapa pabrik di Tiongkok selama tahun 2017, sehingga mendorong menguatnya harga pada akhir tahun. Sementara untuk pasar Amoniak, tahun 2017-2018
menggambarkan penyesuaian terhadap arus perdagangan Amoniak yang baru dan perubahan dalam permintaan dari tiap daerah yang didorong oleh ketersediaan Amoniak
karena dua proyek Amoniak terbesar hampir selesai, yaitu pabrik BASF/Yara JV di US dan pabrik PAU di Sulawesi. Karena kedua proyek tersebut diperkirakan memasuki pasar pada waktu yang sama yaitu pada awal tahun 2018, sehingga tekanan menurunnya harga Amoniak perlu diantisipasi. Ini juga akan bersamaan dengan dimulainya kontrak pasokan jangka Panjang antara CF dan Mosaic. Fertecon Ammonia Outlook December/2017 menunjukkan konsumsi Amoniak dunia selama 2017 sekitar 183,8 juta ton dan meningkat menjadi 194,4 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Amoniak dunia meningkat dari 245 juta ton pada 2017 menjadi 252 juta ton pada 2020.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Pasar utama Perusahaan masih berfokus pada pasar Kalimantan dalam memasarkan produk pupuk sektor domestik dengan memanfaatkan keunggulan geografis. Terlihat dari realisasi penjualan Urea non subsidi di wilayah Kalimantan mencapai 44,51% dari total penjualan atau 351 ribu ton, sisanya 29,34% untuk pasar Jawa dan 26,74% untuk pasar Sumatera. Sedangkan untuk realisasi penjualan NPK non subsidi, 47% dari total penjualan atau 15 ribu ton juga terjual di pasar Kalimantan. Selain wilayah Kalimantan sebagai pasar utama, Perusahaan juga berusaha untuk melakukan penetrasi pasar pada wilayah potensial dengan luas lahan perkebunan yang tinggi seperti Sumatera, maupun wilayah dimana banyak berdiri
industri yang membutuhkan Urea sebagai bahan baku seperti Jawa Timur dan wilayah yang banyak terdapat perkebunan seperti Riau. Untuk produk Amoniak, pangsa pasar Domestik sebagian besar masih didominasi oleh pasar Amoniak di Gresik Jawa Timur dan Bontang untuk kebutuhan industri Petrokimia.

RINGKASAN KINERJA 2017

 


CAPAIAN DAN PROSPEK 2016
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Tantangan utama bagi prospek usaha pada pasar internasional adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing di antaranya Qafco (Qatar),
Petronas (Malaysia), PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Cina. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing di kawasan Timur Tengah dan Amerika dapat memperoleh Alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan shale gas dan LNG yang cukup tinggi. Hal ini dapat mengurangi daya saing Perusahaan di pasar internasional.

Pada 2015, Perusahaan telah menerapkan strategi pembuatan long term contract dan off-take agreement untuk memberikan jaminan pasar atas produknya. Perusahaan juga memiliki keunggulan letak geografis yang lebih dekat untuk akses pasar Asia Tenggara dan Pasifik. Manajemen tetap optimis dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar internasional dengan meningkatkan kualitas produk, optimalisasi kinerja pabrik serta memperluas pangsa pasar dengan melakukan trading dan penjualan Cost and Freight (CFR).

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Pasar Urea internasional 2015 mengalami penurunan harga yang disebabkan kombinasi penurunan permintaan dari Brazil serta peningkatan supply dari Algeria, Indonesia dan Mesir. Penurunan permintaan tersebut juga akibat dari pelemahan mata uang lokal di negara net-importir, seperti Brazil, India, Turki dan Thailand. Fertecon Urea Outlook Q3/2015 menunjukkan konsumsi Urea dunia selama 2015 sekitar 174 juta ton dan meningkat menjadi 189 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Urea dunia meningkat dari 236-238 juta ton pada 2015 menjadi 267-268 juta ton pada 2020.

Pada awal 2015, harga Urea berada pada level USD321 per ton, mengalami peningkatan pada
bulan Mei-Juni dan akhirnya ditutup turun pada level USD244 per ton atau mengalami depresiasi senilai 24%. Untuk 2016, diprediksi harga Urea internasional tetap mengalami tekanan penurunan dengan kisaran harga antara USD252 – USD297 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Urea terbesar di Indonesia dan memiliki keunggulan letak geografis untuk akses pasar Asia Tenggara dan
Pasifik. Target pemasaran Urea ekspor pada 2016 diarahkan untuk bersaing secara kompetitif dengan produk Cina, terutama untuk pemenuhan kebutuhan di negara net-importir dengan keunggulan biaya pengangkutan yang lebih ekonomis. Perdagangan Amoniak dunia pada 2015 menurut Fertecon Ammonia Outlook Q3/2015 sekitar 17,9 juta ton. Kapasitas pabrik terpasang akan naik dari 231 juta ton pada 2014 menjadi 274,8 juta ton pada 2025 atau ekuivalen 1,6% Compound Annual Growth Rate (CAGR). Untuk wilayah Asia, peningkatan kapasitas produksi Amoniak terutama terjadi di wilayah Cina, Indonesia dan Malaysia.
Harga Amoniak pada awal 2015 pada level USD532 lalu mengalami penurunan hingga bulan September-Oktober di kisaran USD426 – USD431 per ton. Namun, di akhir tahun bergerak turun ke USD405 per ton. Untuk 2016, harga Amoniak diprediksi tetap dalam tekanan penurunan walaupun ada potensi peningkatan permintaan. Hal ini dipicu oleh permintaan produk down-stream Amoniak dari industri di kawasan Maroko, Turki, Australia dan Mesir. Kapasitas produksi Amoniak internasional akan bertambah dengan mulai beroperasinya pabrik baru di Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, Meksiko dan Mesir. Di sisi lain, permintaan Amoniak juga akan mengalami tekanan penurunan akibat depresiasi mata uang lokal di negara importir, yaitu India, Turki, Brazil dan Maroko yang menyumbang sekitar
20% dari perdagangan Amoniak internasional. Diperkirakan harga Amoniak 2016 berkisar antara USD375-USD460 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Amoniak terbesar di Indonesia. Perusahaan memiliki off-take agreement dengan PT Mitsui yang memberikan jaminan hasil produksi akan diserap pasar ekspor.

KONDISI INDUSTRI PUPUK NASIONAL
Di tengah perlambatan ekonomi global, program Pemerintah dalam mencapai swasembada
pangan masih terus diupayakan, terutama dengan dilanjutkannya Program Subsidi Pupuk bagi petani. Hal ini sejalan dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, bahwa pembangunan sektor pertanian dalam 5 (lima) tahun ke depan (2015-2019) akan mengacu pada paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan.Dengan adanya paradigma ini, maka diperlukan penggunaan pupuk yang tepat dengan jaminan pasokan pupuk sesuai kebutuhan. 

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Ancaman utama yang mempengaruhi prospek usaha Perusahaan di pasar domestik dari sisi internal adalah umur pabrik yang rata-rata tidak muda lagi sehingga tingkat efisiensi rendah. Tantangan eksternal antara lain kepastian pasokan gas alam dengan harga ekonomis, pelemahan nilai Rupiah yang berdampak pada kenaikan utang dalam mata uang USD dan
ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi sehingga mempengaruhi harga pokok produksi. Manajemen tetap optimis dalam berkompetisi di pasar domestik dengan mencermati bahwa ancaman pendatang baru dan produk substitusi pupuk masih
relatif rendah. Produk impor tidak mudah masuk ke pasar domestik disebabkan adanya dominasi produsen pupuk di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Selain itu, adanya Program Subsidi dari Pemerintah mengakibatkan harga Urea yang dijual ke petani relatif murah dan juga didukung oleh persepsi petani bahwa pupuk Urea merupakan
pupuk utama di bidang pertanian dengan kandungan tertentu yang dibutuhkan tanaman.
Hal ini membentuk brand loyalty sehingga petani tidak mudah beralih ke produk substitusi yang lain.

Prospek usaha lainnya di pasar domestik adalah pemasaran pupuk majemuk yang diprediksi
akan semakin menguat. Hal ini sejalan dengan propaganda Pemerintah dalam pemanfaatan pupuk berimbang yang memberikan hasil lebih optimal bagi peningkatan produktivitas hasil pertanian. Perusahaan telah menindaklanjuti peluang ini dengan cara pengembangan usaha diversifikasi agrokimia dan rencana pembangunan pabrik NPK Cluster. Program ini menjadi prioritas utama dan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan cash flow Perusahaan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Sesuai Peraturan Menteri Pertanian, kebutuhan Urea dan NPK subsidi pada 2015 masing-masing senilai 4,1 juta ton dan 2,55 juta ton dengan kapasitas terpasang dari pabrik Urea nasional sekitar 7,9 juta ton dan NPK sekitar 2,52 juta ton. Hal ini mengindikasikan produksi pupuk domestik cukup memenuhi kebutuhan Program Subsidi Pemerintah. Kebutuhan pupuk nasional pada 2016 menurut data statistik Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia (APPI) diproyeksi naik senilai 6,95% dari tahun sebelumnya.

Kenaikan kebutuhan pupuk tersebut dipengaruhi pola konsumsi pupuk oleh petani dan ketersediaan stok di daerah. Strategi Perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan pasar domestik adalah melakukan penetrasi pasar non subsidi dan membuka distribution center di dekat sentra perkebunan Sumatera dan Kalimantan. Pada 2016, Manajemen
tetap melanjutkan komitmen dalam mendukung program pemerintah melalui Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan penyaluran Urea non subsidi melalui Program Upaya Khusus (UPSUS).

RINGKASAN KINERJA 2016

 


CAPAIAN DAN PROSPEK 2015
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Tantangan utama bagi prospek usaha pada pasar internasional adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing di antaranya Qafco (Qatar),
Petronas (Malaysia), PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Cina. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing di kawasan Timur Tengah dan Amerika dapat memperoleh Alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan shale gas dan LNG yang cukup tinggi. Hal ini dapat mengurangi daya saing Perusahaan di pasar internasional.

Pada 2015, Perusahaan telah menerapkan strategi pembuatan long term contract dan off-take agreement untuk memberikan jaminan pasar atas produknya. Perusahaan juga memiliki keunggulan letak geografis yang lebih dekat untuk akses pasar Asia Tenggara dan Pasifik. Manajemen tetap optimis dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar internasional dengan meningkatkan kualitas produk, optimalisasi kinerja pabrik serta memperluas pangsa pasar dengan melakukan trading dan penjualan Cost and Freight (CFR).

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Pasar Urea internasional 2015 mengalami penurunan harga yang disebabkan kombinasi penurunan permintaan dari Brazil serta peningkatan supply dari Algeria, Indonesia dan Mesir. Penurunan permintaan tersebut juga akibat dari pelemahan mata uang lokal di negara net-importir, seperti Brazil, India, Turki dan Thailand. Fertecon Urea Outlook Q3/2015 menunjukkan konsumsi Urea dunia selama 2015 sekitar 174 juta ton dan meningkat menjadi 189 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Urea dunia meningkat dari 236-238 juta ton pada 2015 menjadi 267-268 juta ton pada 2020.

Pada awal 2015, harga Urea berada pada level USD321 per ton, mengalami peningkatan pada
bulan Mei-Juni dan akhirnya ditutup turun pada level USD244 per ton atau mengalami depresiasi senilai 24%. Untuk 2016, diprediksi harga Urea internasional tetap mengalami tekanan penurunan dengan kisaran harga antara USD252 – USD297 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Urea terbesar di Indonesia dan memiliki keunggulan letak geografis untuk akses pasar Asia Tenggara dan
Pasifik. Target pemasaran Urea ekspor pada 2016 diarahkan untuk bersaing secara kompetitif dengan produk Cina, terutama untuk pemenuhan kebutuhan di negara net-importir dengan keunggulan biaya pengangkutan yang lebih ekonomis. Perdagangan Amoniak dunia pada 2015 menurut Fertecon Ammonia Outlook Q3/2015 sekitar 17,9 juta ton. Kapasitas pabrik terpasang akan naik dari 231 juta ton pada 2014 menjadi 274,8 juta ton pada 2025 atau ekuivalen 1,6% Compound Annual Growth Rate (CAGR). Untuk wilayah Asia, peningkatan kapasitas produksi Amoniak terutama terjadi di wilayah Cina, Indonesia dan Malaysia.
Harga Amoniak pada awal 2015 pada level USD532 lalu mengalami penurunan hingga bulan September-Oktober di kisaran USD426 – USD431 per ton. Namun, di akhir tahun bergerak turun ke USD405 per ton. Untuk 2016, harga Amoniak diprediksi tetap dalam tekanan penurunan walaupun ada potensi peningkatan permintaan. Hal ini dipicu oleh permintaan produk down-stream Amoniak dari industri di kawasan Maroko, Turki, Australia dan Mesir. Kapasitas produksi Amoniak internasional akan bertambah dengan mulai beroperasinya pabrik baru di Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, Meksiko dan Mesir. Di sisi lain, permintaan Amoniak juga akan mengalami tekanan penurunan akibat depresiasi mata uang lokal di negara importir, yaitu India, Turki, Brazil dan Maroko yang menyumbang sekitar
20% dari perdagangan Amoniak internasional. Diperkirakan harga Amoniak 2016 berkisar antara USD375-USD460 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Amoniak terbesar di Indonesia. Perusahaan memiliki off-take agreement dengan PT Mitsui yang memberikan jaminan hasil produksi akan diserap pasar ekspor.

KONDISI INDUSTRI PUPUK NASIONAL
Di tengah perlambatan ekonomi global, program Pemerintah dalam mencapai swasembada
pangan masih terus diupayakan, terutama dengan dilanjutkannya Program Subsidi Pupuk bagi petani. Hal ini sejalan dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, bahwa pembangunan sektor pertanian dalam 5 (lima) tahun ke depan (2015-2019) akan mengacu pada paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan.Dengan adanya paradigma ini, maka diperlukan penggunaan pupuk yang tepat dengan jaminan pasokan pupuk sesuai kebutuhan. 

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Ancaman utama yang mempengaruhi prospek usaha Perusahaan di pasar domestik dari sisi internal adalah umur pabrik yang rata-rata tidak muda lagi sehingga tingkat efisiensi rendah. Tantangan eksternal antara lain kepastian pasokan gas alam dengan harga ekonomis, pelemahan nilai Rupiah yang berdampak pada kenaikan utang dalam mata uang USD dan
ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi sehingga mempengaruhi harga pokok produksi. Manajemen tetap optimis dalam berkompetisi di pasar domestik dengan mencermati bahwa ancaman pendatang baru dan produk substitusi pupuk masih
relatif rendah. Produk impor tidak mudah masuk ke pasar domestik disebabkan adanya dominasi produsen pupuk di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Selain itu, adanya Program Subsidi dari Pemerintah mengakibatkan harga Urea yang dijual ke petani relatif murah dan juga didukung oleh persepsi petani bahwa pupuk Urea merupakan
pupuk utama di bidang pertanian dengan kandungan tertentu yang dibutuhkan tanaman.
Hal ini membentuk brand loyalty sehingga petani tidak mudah beralih ke produk substitusi yang lain.

Prospek usaha lainnya di pasar domestik adalah pemasaran pupuk majemuk yang diprediksi
akan semakin menguat. Hal ini sejalan dengan propaganda Pemerintah dalam pemanfaatan pupuk berimbang yang memberikan hasil lebih optimal bagi peningkatan produktivitas hasil pertanian. Perusahaan telah menindaklanjuti peluang ini dengan cara pengembangan usaha diversifikasi agrokimia dan rencana pembangunan pabrik NPK Cluster. Program ini menjadi prioritas utama dan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan cash flow Perusahaan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Sesuai Peraturan Menteri Pertanian, kebutuhan Urea dan NPK subsidi pada 2015 masing-masing senilai 4,1 juta ton dan 2,55 juta ton dengan kapasitas terpasang dari pabrik Urea nasional sekitar 7,9 juta ton dan NPK sekitar 2,52 juta ton. Hal ini mengindikasikan produksi pupuk domestik cukup memenuhi kebutuhan Program Subsidi Pemerintah. Kebutuhan pupuk nasional pada 2016 menurut data statistik Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia (APPI) diproyeksi naik senilai 6,95% dari tahun sebelumnya.

Kenaikan kebutuhan pupuk tersebut dipengaruhi pola konsumsi pupuk oleh petani dan ketersediaan stok di daerah. Strategi Perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan pasar domestik adalah melakukan penetrasi pasar non subsidi dan membuka distribution center di dekat sentra perkebunan Sumatera dan Kalimantan. Pada 2016, Manajemen
tetap melanjutkan komitmen dalam mendukung program pemerintah melalui Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan penyaluran Urea non subsidi melalui Program Upaya Khusus (UPSUS).

RINGKASAN KINERJA 2015
Ringkasan Kinerja 2015

Afiliasi & Anak Perusahaan

NEXT PAGE

SNI AWARD
PLATINUM

PROPER
EMAS

INDUSTRI
HIJAU LV.5