You are using an outdated browser. For a faster, safer browsing experience, upgrade for free today.

2019 - 2021

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL 

Kebijakan dan Strategi Pemasaran

Pada tahun 2019, Perusahaan telah menetapkan fokus dan strategi yang merupakan penjabaran dari Visi dan Misi serta Rencana Jangka Panjang yang ditetapkan oleh Pemegang Saham. Strategi ini dirumuskan untuk mengantisipasi pengaruh kondisi eksternal dan internal yang berdampak signifikan pada kinerja Perusahaan. Beberapa strategi utama yang direalisasikan antara lain:
• Meningkatkan penguasaan pasar dalam negeri dan luar negeri, baikmelalui kerja sama strategis dengan konsumen, penetrasi pasar melalui jaringan dan pasar ritel.
• Mengamankan jaminan pasokan bahan baku dan melakukanrenegosiasi harga bahan baku.
• Mengoptimalkan sumber pendapatan usaha yang menghasilkan margin lebih baik.
• Meningkatkan kompetensi SDM.
• Melakukan efisiensi biaya operasional.

 

Pangsa Pasar Internasional

Urea
Penjualan ekspor Urea mengalami kenaikan signifikan sebesar 63% menjadi 1,3 juta ton dari posisi tahun 2018 yang sebesar 786,0 ribu ton. Hal tersebut merupakan keberhasilan Perusahaan dalam memanfaatkan momentum kenaikan harga di pertengahan tahun 2019. Meskipun demikian, pasar Urea sempat mengalami gejolak yang diakibatkan ketidakstabilan harga. Harga pasar Urea internasional pada tahun 2019 diawali dengan dengan tren yang menurun hingga kuartal-II 2019. Harga sempat meningkat pada kuartal-III 2019 hingga mencapai puncak lalu kembali menurun pada kuartal-IV 2019.

 

Pangsa pasar terbesar tahun 2019 adalah dari India yang mencapai 36% dari total penjualan ekspor, diikuti oleh penjualan ke Filipina 20% dan Australia 20% dari total penjualan ekspor. Penurunan porsi penjualan justru terjadi pada Vietnam yang sebelumnya merupakan pangsa pasar utama Perusahaan. Pada tahun 2019 pangsa pasar di negara itu hanya 6% dari total penjualan, turun sebanyak 76% dari tahun sebelumnya yaitu 25% dari total penjualan. Hal tersebut dikarenakan banjir yang terjadi di negara tersebut sehingga mempengaruhi permintaan Urea.

 

Meskipun demikian, pada tahun 2019 Perusahaan berhasil menjual kargo ke pasar baru seperti Kolombia dan Mozambik. Selain memiliki pasar baru, peningkatan penjualan ekspor tahun 2019 disebabkan kenaikan penjualan pada kedua negara importir besar Urea yaitu India dan Australia. Kondisi tersebut didukung oleh peningkatan produksi Urea tahun 2019 dari dengan sebelumnya serta turunnya alokasi pupuk Urea subsidi dari pemerintah pada tahun buku dibandingkan dengan tahun 2018. Dari sisi market share, Perusahaan adalah eksportir Urea terbesar di Indonesia pada tahun 2019. Sedangkan untuk pasar Asia Tenggara, penjualan urea ekspor Perusahaan mencapai 32% dari total ekspor dari negara di Asia Tenggara pada tahun 2019.

 

Amoniak
Pada tahun 2019, penjualan ekspor Amoniak mengalami perlambatan sebesar 4% dari capaian tahun 2018 yang sebesar 531,3 ribu ton menjadi 508,1 ribu ton akibat dari permintaan pasar global yang mengalami perlambatan. Permintaan yang melambat tersebut disebabkan oleh berbagai hal. Secara keseluruhan harga Amoniak cenderung melemah dibandingkan dengan harga pada tahun 2018. Pada kuartal-I 2019 harga amoniak secara umum kurang stabil dibandingkan dengan kisaran harga pada kuartal-I 2018. Pelemahan harga pada seluruh indikasi harga sebagian besar diakibatkan karena pasokan yang banyak dan permintaan yang relatif lemah secara global.

 

Faktor pendukung lainnya ialah terdapat beberapa turnaround di bulan Januari, permintaan AS yang rendah karena cuaca yang sangat buruk di wilayah Midwest pada bulan Februari/Maret sehingga mendorong penurunan harga Tampa serta harga produk hilir yang juga melemah turut memperburuk harga Amoniak. Pada kuartal-III 2019, harga Amoniak mulai stabil yang ditunjukkan dengan pemulihan harga, didukung oleh harga gas yang lebih tinggi di Eropa dan permintaan atas Amoniak yang baik di India. Peningkatan pasokan dari Rusia (EuroChem) dan Indonesia, yakni PT Panca Amara Utama (PAU) dan ekspansi pabrik hilir di Brasil, Turki, Cina turut mendukung peningkatan permintaan Amoniak.

 

Potensi permintaan impor Amoniak akan lebih tinggi dari India sebagai produksi Diammonium Phosphate (DAP). Sementara itu, potensi pasokan Amoniak akan lebih tinggi yang berasal dari Mesir. Selain itu, harga gas alam di Eropa Barat meningkat secara bertahap sehingga memiliki potensi yang mengarah pada permintaan impor lokal yang lebih tinggi. Namun, pada bulan Agustus merupakan akhir dari beberapa turnaround di Arab Saudi dan Aljazair sehingga menyebabkan meningkatnya pasokan di pasar.

 

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK

Urea
Realisasi penjualan Urea non subsidi tahun 2019 adalah 796,4 ribu ton, turun 32% dari penjualan tahun sebelumnya yaitu 1,2 juta ton. Pangsa pasar terbesar dari produk tersebut ialah Pulau Kalimantan yang mencapai 40% dari total penjualan. Kedua terbesar ialah Pulau Jawa dengan persentase sebesar 33% dari total penjualan, dan selanjutnya adalah Pulau Sumatera yang sebesar 22% dari total penjualan.

 

Kalimantan merupakan pangsa pasar utama karena Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kedekatan lokasi dan banyaknya perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan, begitu juga di Sumatera yang merupakan sentra perkebunan sawit di Indonesia. Sementara itu, di pulau Jawa banyak terdapat lahan pertanian dan lokasi industri yang membutuhkan Urea sebagai bahan baku. Perusahaan memiliki pangsa pasar terbesar di antara pabrik pupuk sesama anak perusahaan PT Pupuk Indonesia, yakni mencapai 50% dari total penjualan Urea non subsidi dalam negeri PT Pupuk Indonesia pada tahun 2019.

 

Amoniak
Pangsa pasar domestik Amoniak sebagian besar didominasi oleh pembeli Bontang sebesar 62% dari total penjualan domestik amoniak untuk kebutuhan industri petrokimia, sedangkan 32% oleh pembeli Gresik. Realisasi penjualan pada tahun 2019 yang sebesar 223,2 ribu ton, turun 17% dari posisi tahun 2018 yang sebesar 267,6 ribu ton.

 

NPK
Penjualan pupuk NPK non subsidi pada tahun 2019 sebesar 23.934,4 ton, turun 10% dari tahun sebelumnya yakni 26.520,9 ton. Pangsa pasar penjualan pupuk NPK dalam negeri terbesar adalah di pulau Kalimantan, yang mencapai 29% dari total penjualan. Kemudian pulau Sulawesi sebesar 27% dari total penjualan dan Jawa mencapai 21% dari total penjualan.

 

Sama seperti Urea, penjualan NPK terbesar terjadi di Kalimantan dan Sulawesi karena Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kedekatan lokasi. Sementara itu, untuk pasar Sumatera tidak mudah dijangkau karena kendala tingginya biaya kirim sehingga harga barang sampai di Sumatera menjadi kurang kompetitif.

 

Dengan realisasi penjualan selama tahun 2019, pangsa pasar pupuk NPK Perusahaan hanya 8% dari total penjualan PT Pupuk Indonesia pada tahun 2019 sehingga Perusahaan perlu memperluas pasar pupuk NPK non subsidi.

 

RINGKASAN KINERJA 2019

 

 

 

Halaman Selanjutnya

2015 - 2018